Anda Seorang Guru?

Jika iya, silahkan lanjutkan baca!

Ada apa?
Ada tantangan luar biasa (menurut saya) untuk anda!
➖➖➖➖➖
Yaa kita ketahui bersama bahwa tuntutan seorang guru dari Kurikulum 2013 adalah membentuk karakter siswa, di mana dalam kurikulum tersebut setidaknya mengandung 18 karakter utama yang diharapkan bisa lahir dalam kehidupan sehari-harinya para siswa. Adapun tuntutan guru oleh kurikulum merdeka adalah membangun potensi siswa sesusai fitrohnya.
Saya setuju-setuju saja atas dua konsep kurikulum tersebut yang tujuan akhirnya mulia.
Namun tulisan kali ini justru saya akan menitik beratkan terhadap sebuah akronim kata yang sering digaungkan oleh orang-orang jawa bahwa “GURU” itu “DiGUGU” dan “DITIRU”.
Kenapa saya tekankan petuah jawa tersebut dalam tulisan ini.
Jawabannya; karena ketika kita buka tabir di balik kata tersebut akan nampak dampak yang luar biasa. Kenapa bisa?
Gimana tidak, siang hari pada tanggal 30 Juni 2023 saya mencoba mengumpulkan seluruh siswa kelas 7 dan 8. Saya coba yakinkan mereka dengan berbagai cara agar berani menorehkan tinta hitam pada secarik kertas putih sesuai gambaran nyata yang ada di dalam dada mereka.
Tralalala, malam harinya saya mencoba duduk santai untuk membacanya. Ternyata percobaan saya untuk santai gak bisa terlaksana setelah lembaran-lembaran tulisan siswa mulai terbuka dan terbaca.
Kenapa?
Ternyata para siswa menilai saya sangat terperinci setelah saya kaitnya satu jawaban siswa dengan siswa yang lain. Mulai dari cara jalanpun mereka nilai, apalagi tuturkata, tak ketinggalan cara berpakaian, cara bermuamalah kepada siswa maupun teman sejawat/ sesama guru, kedisplinan; jam kerja, mengajar, penilaian, dan masih banyak lagi (bahasa sederhananya dari ujung ke ujung dan dari awal sampai akhir mereka lihat dan mereka ingat).
Nah jika sudah demikian, coba tanyakan pada diri sendiri, bagaimana hisab kita dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala nanti jika justru digugu dan ditirunya kita sebagai guru tidak diridhoi oleh Allah ta’ala (memberi contoh tidak baik dan siswa menirunya).

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan dari sedikit pengalaman sederhana yang telah terjadi, semoga bermanfaat. Semoga ilmu kebaikan yang kita sampaikan kepada para siswa jadikan sebagai amal jariyah kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah mengampuni kita semua seorang guru atas kealpaan kita dengan memberi contoh yang kurang baik dan Allah berikan Taufiq kepada kita untuk terus berbenah diri.

Oh ya, jika Anda seorang guru dan siap menerima tantangan saya. Maka lakukanlah hal yang semisal saya di atas kepada siswa Anda. Kalau Anda tanya caranya, mungkin berikut yang saya sampaikan di bawah bisa menjadi gambaran untuk Anda

Berilah mereka secarik kertas dan berilah stimulan dengan pertanyaan ;
1. Perilaku pak/bu (sebutkan nama Anda) yang pantas di contoh:
.
.
.
2. Perilaku pak/bu (sebutkan nama Anda) yang tidak pantas dicontoh;
.
.
.
.
3. Pesan/ nasehat untuk pak/bu (sebutkan nama Anda);
.
.
.
.
.

Sedangkan cara meyakinkan siswa agar berani menulis sesuai isi hati, bisa lakukan dengan cara:
1. Sampaikan bahwa kita (sebagai guru) kemungkinan besar tidak bisa memetakan/ mengenal model font masing² siswa karena begitu banyaknya. Anda juga meminta tulisan siswa untuk dibagus-baguskan supaya guru tidak bisa mengenalnya
2. Sampaikan bahwa Anda tidak mau mengetahui setiap lembaran siapa penulisnya, dengan cara;
a. Berilah intruksi bahwa kertas tidak perlu diberi identitas diri (nama, ttl, no. Absen, dll)
b. Berilah intruksi bahwa jawaban tidak boleh mencontek temennya
c. Berilah intruksi bahwa Tidak boleh duduk berdampingan ketika menjawabnya
d. Tunjuklah satu siswa di setiap kelasnya sebagai tempat mengumpulkan jawaban tsb.